Khohar9's Blog

Just another WordPress.com weblog

Zaman Audio Visual Menggila

Perkembangan dunia audio visual di zaman sekarang sungguh menggila. Hampir seluruh aktivitas manusia didunia sekarang tidak akan pernah luput dengan yang namanya audio visual. Entah dalam bentuk Iklan, Film, Dokumenter ataupun dalam program-program televisi lainnya….mungkin kalo diperhitungkan, waktu atau umur manusia hidup didunia hampir ¼ waktu hidupnya hanya dihabiskan untuk menikmati dunia audio visual. Hal ini tentunya tidak terlepas dari serangan bertubi-tubi dari beragam cara audio visual mencuri perhatian manusia itu sendiri. Penulis yakin bahwa sebagian besar Pembaca pernah nonton acara di TV? Berapa stasiun TV yang Anda kenal? Berapa jam Anda nonton siaran TV setiap harinya? Pada tahun 1996 saja, sekitar 90 juta penduduk Indonesia sudah memiliki pesawat televisi. 1 Memperhitungkan bahwa sejak 1994 pertambahan pesawat televisi di Indonesia sekitar 650.000 buah setiap tahunnya 2, maka bisa diperkirakan dalam tahun 2006 terdapat 96.500.000 pesawat televisi. Jika setiap pesawat TV ditonton oleh dua orang, jumlah penonton televisi di Indonesia mencapai 193 juta orang atau 87% dari jumlah penduduk Indonesia. Sementara itu pesawat video, VCD/DVD juga sudah merambah kemana-mana. Stasiun televisi juga semakin menjamur, baik di tingkat nasional, di tingkat provinsi maupun di tingkat kabupaten. Hal ini menjadi pertanda bahwa siaran TV atau bahasa audio visual menarik perhatian orang. Alasannya, bahasa audio visual mempunyai kekuatan khusus, yang mampu membangkitkan imajinasi dan menggerakkan hati manusia Indonesia.

Dan yang paling terbaru dari kasus Dunia Audio Visual adalah proses turut serta pembentukan citra Para pelaku politik tanah air khususnya para calon pemimpin negeri ini dalam mempengaruhi calon pemilih dengan menggunakan kekuatan audio visual dalam bentuk iklan. Iklan yang kita saksikan hampir setiap jam dalam sehari adalah salah satu serangan yang hampir selalu membanjiri diwaktu dan ruang dimanapun kita berada, bahkan saat santaipun kita tidak dapat menolak kehadiran iklan tersebut. Hal ini tentunya yang sangat diharapkan oleh para pelaku politik. Mereka berharap kepada para pemirsa iklan tersebut untuk dapat terpengaruh oleh sajian atau isi dari iklan tersebut.

Juni 15, 2009 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

Lintas Sejarah Video Komunitas

Berbagai sumber kepustakaan selama ini menyebut apa yang terjadi pada tahun 1967, di Pulau Fogo, satu pulau kecil di lepas pantai timur Propinsi Newfoundland & Labrador, Kanada, dianggap sebagai cikal-bakal video komunitas (Riano, 1994; Media Development, 1989). Hal ini berawal pada Tahun 1965, ketika Don Snowden dari Universitas Memorial Newfoundland, membaca laporan Dewan Ekonomi Kanada (The Economic Council of Canada) tentang kemiskinan di negeri itu. Dia tidak setuju dengan laporan tersebut, karena menggunakan berbagai tolok-ukur kemiskinan menurut nilai-nilai perkotaan. Snowden kemudian punya gagasan membuat satu film tentang bagaimana masyarakat di Newfoundland itu sendiri melihat kemiskinan dan berbagai masalah lainnya. Dia kemudian bekerja dengan pembuat film lainya, Colin Low. Mereka berdua kemudian membahas kemungkinan beberapa kawasan di Newfounland yang potensial difilmkan. Berdasarkan semua data dan informasi yang tersedia, akhirnya, mereka memilih Pulau Fogo sebagai tempat yang paling layak untuk memulai apa yang mereka sebut sebagai ‘Proses Fogo’. Pada waktu itu, sedikitnya ada 5.000 orang yang tinggal di Pulau Fogo. Mereka tersebar di sekitar sepuluh kawasan pemukiman yang saling berjauhan dan terpencar di berbagai penjuru pulau kecil itu. Snowden percaya kalau penduduk Fogo dapat mengorganisir diri mereka dengan berbagai cara, asalkan mereka diberi peluang dan dibantu melihat berbagai kemungkinannya. Untuk itu, dia dan Low membentuk tim dari kalangan para warga setempat. Mereka melatih para warga itu menggunakan kamera dan peralatan film lainnya untuk merekam berbagai keadaan dan kejadian yang mereka anggap berkaitan dengan masalah kemerosotan ekonomi dan kesejahteraan warga Fogo. Ternyata, mereka merasa lebih nyaman dan bebas menyatakan pendapatnya di depan kamera. Rekaman-rekaman gambar itulah yang kemudian ditayangkan ulang untuk mereka tonton beramai-ramai, baik di pemukiman dimana gambar itu diambil, maupun di pemukiman lainnya yang berjauhan. Terjadi pertukaran hasil rekaman antar pemukiman yang selama ini nyaris tidak berkomunikasi satu sama lain. Ketika rekaman dari keseluruhan proses yang berlangsung di Fogo itu dipertontonkan kepada para pejabat pemerintah Newfoundland, hasilnya mengejutkan. Pemerintah langsung bertindak mengundang warga Fogo untuk membahas lebih jauh masalah mereka. Terjadi serangkaian pertemuan, dan pemerintah akhirnya menyetujui pendapat warga Fogo: membatalkan rencana pemindahan mereka, dan menggantinya dengan satu program khusus yang membantu prakarsa yang sudah dilakukan oleh para warga sendiri, antara lain, megembangkan koperasi warga yang sudah ada, dan beberapa program pembangunan lainnya. Snowden dan kawan-kawan tidak berhenti sampai disana. Mereka dan warga setempat melanjutkan terus ‘Proses Fogo’ sampai, pada tahun 1969, pembuatan dan penggunaan film sebagai media pendidikan dan pengorganisasian akhirnya dilakukan sendiri sepenuhnya oleh warga setempat. MENYEBAR KE SELURUH DUNIA Banyak aktivis gerakan sosial kemudian terilhami oleh ‘Proses Fogo’. Mereka mulai mengembangkan prakarsa serupa di berbagai tempat lain di seluruh dunia. Mereka kemudian menyebut berbagai prakarsa terobosan itu dengan beragam penamaan dan peristilahan, mulai dari yang agak teoritik konseptual –misalnya, ‘komunikasi pembangunan’ (development support communication)– sampai ke yang ‘sarat ideologi’ –seperti ‘media untuk perubahan’ (media for change)– atau yang lebih bersifat praktis –seperti ’video partisipatif’ (participatory video). tetapi, apapun istilah yang digunakan untuk menyebut konsep dan praktik ‘video berbasis komunitas’ (community-based video) atau ‘video komunitas’ (community video) ini, satu hal jelas dan pasti: media audio-visual ternyata efektif dan mampu digunakan oleh suatu kelompok masyarakat tertentu untuk keperluan, kepentingan, dan tujuan-tujuan mereka sendiri. Anggapan umum bahwa jenis media ini terlalu canggih, serba rumit, dan mahal, ternyata hanya ‘mitos’ dan telah di’demistifikasi’kan sendiri oleh mereka yang justru selama ini dibenamkan ke dalam ‘kesadaran mistik’ tersebut! Untuk melihat lebih jelas bagaimana sesungguhnya proses demistifikasi media audio-visual itu terjadi selama ini, berikut adalah beberapa contoh –secara singkat saja– yang banyak dikutip selama ini. * Dekonstruksi Identitas di Kolombia Di Amerika Latin, praktik video komunitas sudah berlangsung sistematis sejak 1970an, bersamaan dengan semakin luasnya pengaruh pemikiran ‘pendidikan penyadaran’ (consientesacao) nya Paulo Frerie. Rodriguez (1994), menyajikan satu contoh dari Kolombia. Bagi kaum perempuan yang hidup di kawasan kumuh pinggiran ibukota Bogota, tujuan utama mereka ketika belajar membuat video adalah bukan meniru apa yang mereka lihat setiap hari di layar televisi, tetapi justru memberinya alternatif tandingan. Salah seorang dari mereka lugas sekali menyatakan: “ Kami tidak cukup cantik untuk muncul di layar televisi”. Jadi, mereka pun belajar membuat video bukan untuk mempertontonkan wajah dan tubuh mereka, tetapi berbagai masalah sosial dan hidup sehari-hari mereka yang susah. Melalui proses-proses pembuatan video itulah, kaum perempuan pinggiran kota Bogota itu akhirnya menemukan bersama siapa sebenarnya diri mereka, apa masalah-masalah bersama yang mereka hadapi, dan dimana kedudukan mereka dalam keseluruhan sistem sosial Kolombia. Kesadaran batu itu yang kemudian menggerakkan mereka mengorganisir diri, melakukan berbagai tindakan bersama untuk mengatasinya, berupaya mengubah keadaan yang tidak memihak kepada mereka selama ini. * Pelestarian Budaya di Brazil Suku Indian Kayapo di Brazil telah menggunakan video untuk melestarikan sistem dan tradisi yang akan diwariskan kepada anak-cucu mereka (Ogan 1989). Pada pertengahan 1980an, beberapa pakar antropologi menetap di tengah belantara Amazonia, untuk membuat satu film dokumenter tentang kehidupan orang Indian Kayapo. Tak dinyana, orang-orang Kayapo itu malah berminat dan berprakarsa membuat video mereka sendiri. Mereka meminta para peneliti itu mengajarkan kepada mereka cara menggunakan semua peralatan pembuatan video yang mereka bawa. Setelah berlatih dan menguasai hampir semua teknik dasarnya, warga Kayapo itupun mulai membuat video tentang diri dan kehidupan mereka sendiri. Hasilnya adalah kejutan baru berikutnya. Para penghuni rimba itu ternyata menemukan dan mengembangkan cara-cara pengambilan gambar dan konsep visual mereka sendiri, menghasilkan video yang benar-benar unik dan ‘asli’. Bukan hanya mereka yang kemudian menemukan kembali berbagai hal dalam sistem pengetahuan lokal mereka sendiri, tetapi para peneliti dari luar tadi juga belajar sesuatu yang baru dan jauh lebih mendasar: kepercayaan pada kemampuan manusia –seterpencil apapun– untuk menciptakan suatu sistem pengetahuan dan peradaban mereka sendiri. Video hasil karya orang Kayapo itu segera melegenda sebagai contoh yang paling sering dipertontonkan tentang perjuangan suatu omunitas mempertahankan jati diri mereka. * Surat-surat Video’ di Nepal Satu lembaga bantuan hukum khusus untuk kaum perempuan menggunakan video untuk berkomunikasi dengan kaum perempuan di desa-desa terpencil. Caranya sederhana saja. Mereka merekam seseorang (pejabat pemerintah, pakar, atau salah seorang di antara mereka sendiri) yang menjelaskan singkat tentang satu topik khusus menyangkut masalah-masalah perlindungan hukum bagi kaum perempuan di Nepal. Di akhir penjelasan itu, mereka melontarkan beberapa pertanyaan kunci. Kaset video itu kemudian disebarkan ke desa-desa, dan ditonton oleh kaum perempuan disana. Para perempuan desa itu –yang telah dilatih sebelumnya menggunakan kamera video dan dipinjami kamera sederhana– saling merekam jawaban, pendapat, atau pertanyaan-pertanyaan balik mereka. Lalu, hasil rekamannya mereka kirim kembali ke kota. Kini giliran pejabat pemerintah, pakar, pengacara, dan aktivis organisasi sosial di ibu kota Kathmandu yang menonton rekaman video dari desa tadi. Mereka kemudian membuat rekaman video baru sebagai jawaban atau penjelasan informasi baru untuk dikirim lagi ke para perempuan desa tadi. Demikian seterusnya, seperti saling menulis dan menjawab surat-surat, tapi kali ini melalui rekaman gambar dan suara –karena itu, mereka menyebutnya ‘surat-surat video’ (video letters). * Pemberdayaan Perempuan di India Pengalaman video komunitas yang diprakarsai oleh Perhimpunan Perempuan Swakarya (Self Employed Women’s Association, SEWA ) di Ahmedabad, India, adalah salah satu contoh yang paling sering dikutip (Stuart 1989). SEWA didirikan pada tahun 1972 dengan tujuan mengorganisir perempuan miskin di perkotaan, antara lain, melalui koperasi, program perlindungan hukum, dan sebagainya. Tahun 1984, Martha Stuart, seorang perintis video komunitas, memfasilitasi satu lokakarya yang diselenggarakan oleh SEWA. Banyak perempuan yang hadir di lokakarya itu tidak bisa membaca dan menulis, juga belum pernah melihat kamera video. Dalam lokakarya itulah mereka pertama kali melihat dan langsung berlatih menggunakannya. Setelah lokakarya, malah mereka membentuk ‘Koperasi Video SEWA’. Dan, sejak saat itulah video menjadi satu media penting bagi mereka menyebarkan informasi, meningkatkan kesadaran anggota dan warga setempat tentang berbagai masalah sosial atau ekonomi, mempengaruhi para pembuat keputusan di lembaga-lembaga pemerintah, dan sebagai media pelatihan. Misalnya, mereka menggunakan video untuk menyiapkan para pekerja pelinting rokok melawan ketidakadilan yang menimpa mereka, yakni diskriminasi dalam pekerjaan dan pemotongan upah secara sepihak oleh para kontraktor. VIDEO KOMUNITAS di INDONESIA Sepanjang yang bisa digali dari bahan-bahan yang tersedia, tercatat ada beberapa prakarsa video komunitas yang telah dimulai di Indonesia sejak tahun 1980an. Yang cukup dikenal adalah proses video komunitas yang difasilitasi oleh Pusat Kateketik (PUSKAT) yang berkdudukan di Jogyakarta. Pada pertengahan tahun 1980an, mereka memfasilitasi satu kelompok masyarakat lokal di satu desa di Flores Timur, yang sebagian besar warganya menderita penyakit kusta. Warga desa itu dilatih menggunakan kamera dan membuat video tentang masalah-masalah yang mereka hadapi. Sayangnya, prakarsa itu tidak pernah berlanjut lagi, sementara PUSKAT sendiri lebih banyak memproduksi video pendidikan agama (Katholik) dan beberapa dokumenter. Ada prakarsa oleh beberapa organisasi non pemerintah lainnya pada masa itu, tetapi sebenarnya lebih tepat disebut sebagai video dokumenter, atau malah ‘video penyuluhan’ yang dibuat oleh staf organisasi yang bersangkutan tentang suatu kelompok masyarakat atau isu tertentu di suatu kelompok masyarakat.Bertolak dari pengertian video komunitas –sebagai alat pendidikan dan pengorganisasian yang di buat oleh warga masyarakat setempat sendiri– maka beberapa contoh saja yang dapat disajikan berikut ini. * Memperjuangkan hak-hak ulayat tradisional dan otonomi lokal di Maluku Sejak tahun 1988, beberapa kelompok masyarakat adat lokal di Kepulauan Kei, Maluku Tenggara, mulai mengorganisir diri mereka untuk memperjuangkan otonomi masyarakat lokal serta hak-hak kepemilikan dan penguasaan atas wilayah ulayat tradisional mereka dan sumberdaya alam di dalamnya. Untuk itu, mereka menggunakan berbagai jenis media, termasuk media visual (terutama fotografi). Baru pada tahun 1993, mereka mulai mengenal media audio-visual dan segera membuat video komunitas mereka sendiri. Difasilitasi oleh Jaringan Baileo Maluku, bekerjasama dengan South East Asia Popular Communication Program (SEAPCP), warga masyarakat setempat membangun satu unit ‘studio’ kecil di Pusat Pelatihan Yayasan Nen Mas Il di Desa Evu, Pulau Kei Kecil –studio audio-visual pertama di Indonesia yang sepenuhnya dikelola oleh warga setempat, dan berkedudukan di desa terpencil, langsung di tengah masyarakat itu sendiri. Pada masa itu, semua peralatan berupa peralatan video analog, manual. Tetapi, dengan peralatan sederhana tersebut, warga setempat mampu membuat puluhan video komunitas sepanjang tahun tentang berbagai kejadian atau isu sosial yang mereka alami. Seluruhnya dikerjakan oleh para warga setempat sendiri, mulai dari menemukan gagasan dan merumuskan tema pokok dan tujuan pembuatannya, sampai ke penulisan ‘naskah’ (sebenarnya hanyalah outline script atau story board sederhana), pengambilan gambar, pengisian suara, dan penyuntingan akhir. Tetapi sebagian besar video komunitas yang mereka buat sebenarnya terjadi secara ‘spontan’, nyaris tidak mengikuti semua aturan baku pembuatan video atau film, karena memang mereka buat hanya untuk digunakan di kalangan mereka sendiri sebagai media pendidikan dan pengorganisasian. Banyak yang malah hanya disunting secara cut to cut, atau malah tidak sama sekali, langsung diputar seketika itu untuk memulai diskusi antar warga setempat. Namun, ada beberapa yang sempat mereka buat secara ‘bersengaja’. Misalnya, Musuh Nelayan (1993) –video singkat 14 menit tentang tiga isu besar (pemboman ikan, pembiusan ikan, dan armada pukat-harimau) yang saat itu dihadapi nelayan setempat. Disajikan dalam gaya penyuntingan kompilasi semi-dokumenter’, video ini pernah digunakan luas sebagai bahan pelatihan dan lokakarya oleh banyak organisasi non pemerintah di Indonesia dan beberapa negara Asia Tenggara, terutama sebagai contoh dan bahan analisis sosial. Juga, Buka Sasi Lompa (1994, 1996, 2004) –video 23 menit dengan gaya ‘pencatatan etnografis’ tentang praktik pelestarian sumberdaya alam lestari secara tradisional di Pulau Haruku, Maluku Tengah. Video ini juga beredar luas di banyak organisasi lingkungan dan masyarakat adat di Indonesia dan Asia Tenggara. Bahkan, laporan video (video report) mereka, Sambil Berjalan (1998, 2005) –video 21 menit yang mengisahkan perjalanan sejarah organisasi mereka sejak awal 1990an– sempat digunakan di banyak organisasi lain sebagai ‘contoh kasus’ pengorganisasian rakyat (community organizing). Pada tahun 2002, mereka mulai mengganti seluruh peralatan tua dengan peralatan serba digital dan menggunakan komputer penyuntingan. Setelah hamoir 15 tahun, mereka masih tetap berproduksi, malah mulai pula melayani permintaan beberapa lembaga pemerintah setempat, organisasi lain, atau bahkan perseorangan. Ini adalah cara mereka untuk memperoleh dana operasional dan pemeliharaan peralatan yang terbukti memang cukup membantu mereka bertahan sampai sekarang. Namun, studio audio-visual itu bukanlah pekerjaan utama mereka. Sehari-harinya, mereka tetap saja seorang petani, seorang nelayan, seorang guru sekolah, pegawai kantor desa, atau seorang ibu rumah-tangga biasa, dan sebagainya. Mereka baru berkumpul di studio –sebagai suatu tim– jika ada gagasan untuk membuat video tentang suatu hal. Umumnya, mereka hanya bekerja rata-rata 1-2 minggu saja untuk menyelesaikan satu produksi, itupun dikerjakan sebagai ‘tugas sambilan bersama’, tanpa meninggalkan pekerjaan pokok sehari-hari mereka. * Mempertahankan Jatidiri di Bali Sebagai salah satu tujuan wisata paling sohor di dunia –bahkan pusat industri wisata terbesar di Indonesia– Bali sudah menjadi satu kosmopolitan sejak lama. Namun, tak banyak terungkap selama ini bahwa banyak juga orang Bali sendiri yang mengalami kegelisahan jatidiri mereka di tengah gemerlap itu. Pada tahun 2001, aktivis Yayasan Wisnu Bali mulai melatih penduduk beberapa desa di Bali Timur membuat video untuk merekam kegelisahan-kegelisahan tersebut. Sejak saat itu, mereka menghasilkan beberapa video komunitas yang mereka gunakan sebagai media pendidikan dan pengorganisasian di kalangan mereka sendiri. Misalnya, warga Desa Nusa Ceningan –salah satu pulau kecil eksotik di pantai selatan-timur Bali, membuat video tentang berbagai masalah yang menggelisahkan mereka, antara lain, perkembangan harga pasar rumput laut –sumber penghidupan utama sebagian besar penduduk setempat– yang kian tidak menguntungkan mereka; pelayanan kesehatan umum yang tidak memadai; anak-anak muda yang semakin asing dengan berbagai tradisi budaya mereka; dan sebagainya. Tetapi, yang paling fenomenal adalah ketika mereka menggunakan media audio-visual itu, pada tahun 2002, untuk menentang dan berhasil meyakinkan pemerintah Kabupaten Klungkung untuk menghentikan rencana yang akan mengubah pulau kecil mereka menjadi satu kawasan wisata komersial. Semua video itu menjadi media pemicu diskusi di jaringan ‘Sekolah Banjar’ –satu model pendidikan alternatif yang mereka prakarsai, berbasis pada kelembagaan banjar desa khas Bali– di beberapa desa disana. Di setiap desa, ada minimal satu kamera jinjing digital sederhana yang dapat digunakan bersama-sama, sehingga mereka dapat mengambil gambar kapan saja diperlukan. Karena jarak yang nisbi dekat dan prasarana angkutan umum yang juga cukup baik di Bali, mereka pun setiap saat dapat mengutus seorang warga ke studio audio-visual Yayasan Wisnu di kota Denpasar untuk melakukan penyuntingan dengan komputer. Biasanya, sehari semalam sudah selesai, lalu orang itu pulang dan menayangkan hasil suntingannya untuk ditonton bersama dengan seluruh warga, memulai suatu proses diskusi di antara mereka. Sama seperti di Kepulauan Kei, seluruh proses video komunitas di Bali ini tidak berdiri sendiri secara parsial, tetapi bagian terpadu dari satu proses yang ebih besar. Proses video komunitas itu adalah bagian dari –dan sekaligus media yang memicu– berbagai kegiatan warga setempat untuk berupaya terus-menerus memecahakan berbagai permasalahan sosial yang mereka alami sehari-hari. Dan, sama seperti yang di Kepulauan Kei, mereka tetap saja sebagai petani atau nelayan, tidak berubah menjadi pembuat video ‘profesional’ atau staf (karyawan) dari organisasi yang memfasilitasi mereka selama ini. AKHIRNYA Sejak tahun 1990an, memang mulai banyak kalangan –terutama organisasi non pemerintah– di Indonesia yang membuat video tentang berbagai isu yang berkembang di tengah masyarakat. kemajuan teknologi optik dan digital membuatnya semakin mudah dan nisbi murah. Banyak pula lembaga dana yang mulai berminat dan mendukung mereka untuk melakukannya, sehingga sebenarnya lebih merupakan bagian dari suatu ‘proyek’ dari luar. Adapun proses video komunitas yang benar-benar dirancang, diolah, dikelola, dan digunakan sendiri oleh warga masyarakat setempat lebih sebagai alat dalam proses-proses pendidikan dan pengorganisasian mereka sendiri, masih tetap langka ditemukan. Apalagi yang mampu bertahan sampai bertahun-tahun tanpa membuat warga masyarakat setempat meninggalkan pekerjaan dan kehidupan mereka sehari-hari, berubah menjadi ‘orang baru lain’, tercerabut dari akar sosial dan budaya mereka sendiri.

Juni 4, 2009 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

Video Komunitas & Video Dokumenter

latihanvideodipilingBeragam istilah dalam dunia pembuatan video yang muncul dalam beberapa tahun terakhir memang bisa membingungkan. Sampai-sampai, menghafalkan berbagai istilah itu jauh lebih sulit daripada membuat video itu sendiri. Para pembuat video profesional dan para intelektual menjadi sibuk merumuskan definisi-definisi. Dan, dalam keriuhan itu, ada yang menganggap bahwa video komunitas adalah bagian dari video dokumenter. Padahal, ini adalah dua jenis yang berbeda, meskipun memang –dalam banyak hal, banyak sekali persamaannya.

Perbedaan yang paling jelas dan utama adalah tujuan pembuatannya. Pada video dokumenter –sama seperti video atau film umumnya– sangat berorientasi pada hasil video itu sendiri sebagai suatu karya. Video komunitas ustru lebih mementingkan prosesnya. Perbedaan lain, video dokumenter –dan video umumnya– selalu mengharuskan ada naskah (script) yang ditulis berdasarkan kaidah-kaidah baku profesional. Pada video komunitas, ketentuan atau persyaratan itu tidak selalu harus ada. Warga masyarakat setempat yang membuat video komunitas lebih berpedoman pada gagasan umum yang mereka sepakati bersama-sama. Memang, kadang-kadang secara bersama sama mereka menyusun juga ‘naskah’, tetapi biasanya juga hanya dalam bentuk ‘naskah garis-besar’ (outline script) saja, atau ‘papan cerita’ (story board) sederhana saja, itupun menurut cara dan gaya mereka sendiri, sangat sering tidak mengikuti –bahkan mereka umumnya tidak pernah tahu (untuk apa?)– kaidah-kaidah baku penulisan naskah video atau film seperti yang dikenal di kalangan para profesional.

Dalam hal biaya produksi, video komunitas tidak memerlukan biaya mahal seperti pada video dokumenter, apalagi film seni, atau film komersial. Seperti nampak pada contoh kasus di Kepulauan Kei dan di Bali, selama 15 dan 8 tahun terus-menerus, mereka tetap bertahan dan bahkan mampu membiayai sendiri produksi mereka. Tetapi, harus diakui, pengalaman di dua tempat itu memperlihatkan ada kelemahan yang juga umum ditemukan di banyak organisasi masyarakat seperti mereka, yakni kelalaian menghitung biaya-biaya penyusutan (depresiasi) dan perawatan peralatan. Apabila peralatan rusak, berhentilah mereka berproduksi. Perlu waktu panjang untuk mampu membeli lagi yang baru.

Perbedaan lain yang lebih mendasar, video dokumenter akan selesai ketika video selesai, sedangkan video komunitas justru baru mulai ketika produknya selesai dibuat. Produk tersebut dipergunakan sebagai media untuk berbagai tujuan. Oleh sebab itu, biasanya memerlukan waktu lebih lama, karena akan berhenti jika sasaran sudah dicapai. Bahkan –karena masalah dan kegiatan komunitas tidak pernah ada habisnya– video komunitas bahkan mungkin pula ‘tak pernah selesai’.

Hal yang sering membuat bingung ialah ada video komunitas yang dibuat oleh para profesional sebagai bagian dari suatu program atau proyek menggunakan pendekatan partisipatif. Mereka kadang mengakui (claiming) telah membuat video komunitas hanya karena prosesnya pembuatannya melibatkan juga warga masyarakat setempat. Dalam hal inilah mungkin memang lebih tepat jika mereka menyatakan itu sebagai ‘video partisipatif’ (participatory video). Tetapi, sebagai ‘video komunitas’?

Nah, daripada bergaduh terus tentang istilah, nampaknya lebih baik memang melakukannya saja langsung. Dalam praktik, warga masyarakat terkadang dan sering malah menemukan istilahnya sendiri. Apapun, istilah itu sesungguhnya yang paling tepat untuk menamakan apa yang mereka kerjakan. Bukankah ‘kekuasaan untuk penamaan dan pemaknaan’ adalah justru salah satu isu paling mendasar dari upaya penciptaan suatu sistem komunikasi atau media alternatif yang, antara lain, melahirkan gagasan dan praktik video komunitas?

Namun, sebagai rangka dasar, untuk melihat perbedaan-perbedaan penting lainnya antara video komunitas dengan video dokumenter, mungkin tabel berikut akan sedikit membantu.*

Video Dokumenter

Video Komunitas

Siapa menentukan isi?

Pembuat Dokumenter

Warga masyarakat setempat

Siapa menulis naskah?

Pembuat Dokumenter

Sering tidak memerlukan naskah, atau warga setempat bersama-sama menyusunnya

Siapa mengambil gambar?

Pembuat Dokumenter atau pengarah kamera profesional

Warga setempat atau bersama fasilitator (sebagai suatu tim pengarah kolektif)

Siapa penonton utama?

Tak dapat ditentukan, bahkan ‘anonim’ (tak dikenal oleh pembuat).

Warga setempat, tidak anonim.

Siapa yang menyebarkan?

Pembuat dokumenter kerjasama dengan pihak lain.

Warga setempat kadang dibantu oleh fasilitator.

Siapa yang membiayai?

Pembuat dokumenter atau penyandang dana tertentu.

Masyarakat

Apakah umpan balik diharapkan?

Tidak terlalu diperlukan, bair penonton yang berpikir tentang itu.

Wajib, video itu hanya alat untuk memulai tindakan-tindakan nyata.

Proses atau produk?

Lebih mementingkan produk.

Lebih mementingkan proses.

Apa paradigma dibelakangnya?

Monoisme, obsesi, obyektivitas, subyektif.

Pluralisme, subyektif.

Dimodifikasi dari: Hubner, 2005

Juni 4, 2009 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

Film

Apa Itu Film Dokumenter?

Dicuplik sebagian dari buku “Video Komunitas”

Dokumenter sering dianggap sebagai rekaman dari ‘aktualitas’—potongan rekaman sewaktu kejadian sebenarnya berlangsung, saat orang yang terlibat di dalamnya berbicara, kehidupan nyata seperti apa adanya, spontan, dan tanpa media perantara. Walaupun kadang menjadi bahan ramuan utama dalam pembuatan dokumenter, unsur-unsur itu jarang menjadi bagian dari keseluruhan film dokumenter itu sendiri, karena semua bahan tersebut harus diatur, diolah kembali, dan ditata struktur penyajiannya. Terkadang, bahkan dalam pengambilan gambar sebelumnya, berbagai pilihan harus diambil oleh para pembuat film dokumenter untuk menentukan sudut pandang, ukuran shot (type of shot), pencahayaan, dan lain-lain, agar dapat mencapai hasil akhir yang mereka inginkan.

John Grierson pertama-tama menemukan istilah ‘dokumenter’ dalam suatu pembahasan mengenai film karya Robert Flaherty, Moana (1925). Dia mengacu pada kemampuan suatu media untuk menghasilkan dokumen visual tentang suatu kejadian tertentu. Dia sangat percaya bahwa “…sinema bukanlah seni atau hiburan, melainkan suatu bentuk publikasi dan dapat dipublikasikan dengan 100 cara berbeda untuk 100 penonton yang berbeda pula.” Oleh karena itu, dokumenter pun termasuk di dalamnya sebagai suatu metode publikasi sinematik yang, dalam istilah Grierson sendiri, disebut ‘perlakuan kreatif atas keaktualitasan’ (creative treatment of actuality). Karena ada perlakuan kreatif, sama seperti dalam film fiksi lainnya, dokumenter dibangun dan bisa dilihat bukan sebagai suatu rekaman realitas, tetapi sebagai jenis ‘representasi lain’ dari realitas itu sendiri.

Kebanyakan penonton film/ video dokumenter di layar kaca sudah begitu terbiasa dengan berbagai cara, gaya, dan bentuk-bentuk penyajian yang selama ini palaing banyak dan umum digunakan dalam berbagai acara siaran televisi. Sehingga, mereka tak lagi mempertanyakan lebih jauh tentang isi dari dokumenter tersebut. Misalnya, penonton sering menyaksikan dokumenter yang dipandu oleh suara (voice over) seorang penutur cerita (narator), wawancara dari para pakar, saksi-mata atas suatu kejadian, rekaman pendapat anggota masyarakat, Demikian pula dengan suasana tempat kejadian yang terlihat nyata, potongan-potongan gambar kejadiannya langsung, dan bahan-bahan yang berasal dari arsip yang ditemukan. Semua unsur khas tersebut memiliki sejarah dan tempat tertentu dalam perkembangan dan perluasan dokumenter sebagai suatu bentuk sinematik.

Ini penting ditekankan, karena –dalam berbagai hal– bentuk dokumenter sering diabaikan dan kurang dianggap di kalangan film seni, seakan-akan dokumenter cenderung menjadi bersifat ‘pemberitaan’ (jurnalistik) dalam dunia pertelevisian. Bukti-bukti menunjukkan bahwa, bagaimanapun, dengan pesatnya perkembangan film/ video dokumenter dalam bentuk pemberitaan, ada kecenderungan kuat di kalangan para pembuat film dokumenter akhir-akhir ini untuk mengarah kembali ke arah pendekatan yang lebih sinematik. Dan, kini, perdebatannya berpindah pada segi estetik. Pengertian tentang ‘kebenaran’ dan ‘keaslian’ suatu film dokumenter mulai dipertanyakan, diputarbalikkan, dan diubah, mengacu pada pendekatan segi estetik film dokumenter dan film-film non-fiksi lainnya.

Satu titik awal yang berguna adalah daftar kategori Richard Barsam tentang apa yang dia sebut sebagai ‘film non-fiksi’. Daftar ini secara efektif menunjukkan jenis-jenis film yang dipandang sebagai dokumenter, dan dengan jelas memiliki ide dan kode etik tentang dokumenter yang sama. Kategori-kategori tersebut adalah:

  • film faktual
  • film etnografik
  • film eksplorasi
  • film propaganda
  • cinéma-vérité
  • direct cinema
  • dokumenter

Pada dasarnya, Barsam menempatkan dokumenter sebagai suatu kategori tersendiri, karena ia mengatakan bahwa peran si pembuat film dalam menentukan interpretasi materi dalam jenis-jenis film tersebut jauh lebih khas.
Perkembangan dokumenter dan genre-nya saat ini sudah sangat pesat dan beragam, tetapi ada beberapa unsur yang tetap dan penggunaannya; yakni unsur-unsur visual dan verbal yang biasa digunakan dalam dokumenter.

Unsur Visual:

  • Observasionalisme reaktif; pembuatan film dokumenter dengan bahan yang sebisa mungkin diambil langsung dari subyek yang difilmkan. Hal ini berhubungan dengan ketepatan pengamatan oleh pengarah kamera atau sutradara.
  • Observasionalisme proaktif; pembuatan film dokumenter dengan memilih materi film secara khusus sehubungan dengan pengamatan sebelumnya oleh pengarah kamera atau sutradara.
  • Mode ilustratif; pendekatan terhadap dokumenter yang berusaha menggambarkan secara langsung tentang apa yang dikatakan oleh narator (yang direkam suaranya sebagai voice over).
  • Mode asosiatif; pendekatan dalam film dokumenter yang berusaha menggunakan potongan-potongan gambar dengan berbagai cara. Dengan demikian, diharapkan arti metafora dan simbolis yang ada pada informasi harafiah dalam film itu, dapat terwakili.

Unsur Verbal:

  • Overheard exchange; rekaman pembicaraan antara dua sumber atau lebih yang terkesan direkam secara tidak sengaja dan secara langsung.
  • Kesaksian; rekaman pengamatan, pendapat atau informasi, yang diungkapkan secara jujur oleh saksi mata, pakar, dan sumber lain yang berhubungan dengan subyek dokumenter. Hal ini merupakan tujuan utama dari wawancara.
  • Eksposisi; penggunaan voice over atau orang yang langsung berhadapan dengan kamera, secara khusus mengarahkan penonton yang menerima informasi dan argumen-argumennya.

Juni 4, 2009 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

Iklan Politik

JAKARTA – Peta politik menjelang pemilihan presiden 2009 semakin panas. Sejumlah capres mulai mengiklankan diri. Pasangan Mega-Prabowo mulai membuat iklan dengan berlatar belakang pedagang Pasar Blok A. Pantauan di lapangan, Senin (25/5/2009), Megawati Seokarnoputri awalnya tiba terlebih dahulu sekira pukul 10.30 WIB di Pasar Blok A. Setelah jalan-jalan dan menyapa pedagang selama satu jam, Mega kemudian meninggalkan pasar. Pukul 11.30 WIB giliran Prabowo tiba di Pasar Blok A. Mantan Danjen Kopassus ini datang dan langsung bersalaman dengan seluruh pedagang. Tidak ada penjagaan ketat saat Prabowo tiba. Ini berbeda dengan penjagaan ketat saat Mega tiba. Berselang 30 menit, Megawati kembali balik ke Pasar Blok A. Mega yang tiba dengan menggunakan baju merah dengan motif bunga dan celana hitam ini, langsung bergabung dengan rombongan Prabowo. Setelah bersalaman mereka berjalan bersama memasuki Pasar Blok A. Satu persatu pedagang pasar kemudian disalami, tebar senyum dari pasangan yang di usung PDI Perjuangan dan Gerindra ini dilontarkan. Sebelumnya, Megawati sempat berganti pakaian di salah satu toko kelontong di Pasar Blok A. Ini dilakukan untuk keperluan pengambilan gambar iklan politik. Hingga kini, syuting iklan tersebut masih berlangsung.(kem) (mbs)

Juni 4, 2009 Posted by | Uncategorized | 2 Komentar

   

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.